Makalah individu dalam perfektif pendekatan

MAKALAH
PISIKOLOGI KONSELING
INDIVIDU DALAM PERSPEKTIF PENDEKATAN
Dosen Pengampu :  H. M. Abdullah Umar, SPd.,M.A.







Disusun Oleh :
1. Ali Rohman 1811080171
2.Erinawati 1811080138
3.Elza nia mutiara 1811080069
4.Salsa Febriantika 1811080105


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG
FAKULTAS TARBIAH DAN KEGURUAN
BIMBINGAN KONSELING PENDIDIKAN ISLAM
2019/2020

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas akhir dari mata kuliah Pisikologi Konseling dengan judul “INDIVIDU DALAM PERSPEKTIF PENDEKATAN”.
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Bandar Lampung, 27 Agustus 2019
Penulis

Kelompok 2

Daftar Isi

PENDAHULUAN 4
Latar Belakang Masalah 4
Rumusan Masalah 5
Tujuan 5
BAB II 6
PEMBAHASAN 6
MASALAH INDIVIDU DALAM PERSPEKTIF PENDEKATAN THINKING, FEELING DAN ACTING (TFA) 6
Hakekat Masalah 6
BAB III 17
PENUTUP 17
KESIMPULAN 17











BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Dalam perkembangan dan proses kehidupannya individu menghadapi berbagai permasalahan. Permasalahan yang dihadapi oleh setiap individu sangat dimungkinkan selain berpengaruh pada dirinya sendiri juga berpengaruh kepada orang lain atau lingkungan sekitarnya. Dengan demikian individu dituntut untuk segera mengambil keputusan dan menyelesaikan masalahnya agar ia dapat hidup secara layak serta dapat menyesuaikan diri dengan lingkunganya secara sehat. Pada kenyataannya tidak semua individu mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Dengan demikian perlu adanya upaya-upaya yang dapat membantu individu dalam menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Salah satu upaya bantuan itu adalah dengan konseling.
Pada hakekatnya konseling bertujuan membantu individu untuk belajar mengambil keputusan dan mengoptimalkan segala kemampuan atau potensi yang dimiliki oleh individu dalam rangka menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Dalam membantu individu, konselor sebagai tenaga profesional dibidang konseling menggunakan berbagai ragam pendekatan konseling agar mereka dapat membantu kliennya lebih efektif dan efisien. Oleh karena tingkah laku individu adalah komplek, maka tak satupun pendekatan yang memberi jawaban lengkap dan tak satupun yang mampu membantu semua orang dalam semua situasi. Dengan adanya situasi demikian, diperlukan adanya suatu pendekatan yang komprehensif, fleksibel yang akan memungkinkan konselor melakukan penyesuaian pada klien dengan menggunakan berbagai teknik dan pendekatan dalam proses konseling.
Dalam bab ini penyusun akan menguraikan hakekat masalah yang dialami individu dilihat dari perspektif pendekatan konseling yang berorientasi pada thinking, feeling dan
acting (TFA). Dengan demikian penyusun tidak menjelaskan tentang bagaimana pendekatan TFA itu sendiri namun lebih mengurai masalah dengan sudut pandang pendekatan TFA. Pendekatan yang disajikan ini sebenarnya adalah pengintegrasian dari beberapa pendekatan inti dalam konseling (Behavior, Rational Emotive Behavior, Gestalt, Reality). Pengintegrasian ini berorientasi pada tiga aspek yaitu aspek pemikiran (thinking), aspek perasaan (feeling) dan aspek tindakan (acting).
Rumusan Masalah
Hakekat Masalah
Masalah Individu dalam Perspektif Pendekatan TFA
Tujuan
1.untuk mengetahui  hakekat masalah secara umum dan secara khusus (dikaitkan dengan konseling)
2. mengetahui contoh masing-masing factor yang mempengaruhi timbulnya masalah.
3. Jelaskan masalah individu jika dilihat dari sudut pandang pendekatan thinking,
feeling dan acting.












BAB II
PEMBAHASAN
MASALAH INDIVIDU DALAM PERSPEKTIF
PENDEKATAN THINKING, FEELING DAN ACTING (TFA)

Hakekat Masalah

Pada hakekatnya masalah secara umum menunjuk pada adanya kesenjangan antara keadaan sekarang (pencapaian) dengan tujuan. Dalam penelitian mengacu pada fokus yang dipandang belum selesai dalam tataran teoritik dan praktik atau lebih seringnya dikatakan bahwa adanya kesenjangan antara teori dan praktik (kenyataan) dan memerlukan penyelesaian. Apabila hakekat ini ditarik dalam bidang konseling maka masalah pada hakekatnya adalah kesenjangan antara kondisi sekarang individu dengan apa yang diharapkan individu atau lingkungannya dan di dalamnya terdapat hambatan untuk mencapai tujuan (Mappiare, 2006:252)

Ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya masalah. Secara umum faktor timbulnya masalah diantaranya adalah
1. Masalah muncul sebagai perilaku yang tidak dikehendaki oleh individu itu sendiri maupun oleh lingkungannya.
2. Masalah timbul akibat dari proses belajar yang salah 3. Masalah muncul karena ada kesenjangan antara harapan dan kenyataan.


B. Masalah Individu dalam Perspektif Pendekatan TFA

Pendekatan konseling yang berorientasi pada thinking, feeling dan acting (TFA) adalah pendekatan integratif sistematik yang mengintegrasikan berbagai macam pendekatan dan teknik-teknik konseling dalam suatu kerangka kerja. Kerangka kerja komperhensif, sistematis ini jelas diperlukan oleh konselor untuk membantu berbagai macam klien dengan efektif dan kualifaid.
Dalam memahami karakteristik masalah individu maka akan dijelaskan dari sudut pandang pendekatan TFA. Adapun penjelasan masalah individu dalam perspektif TFA adalah sebagai berikut:
Pendekatan yang berorientasi pada pemikiran Dalam gambar 1 ditunjukkan segitiga TFA dengan tiga bagian yang terpisah oleh garis yang terputus-putus. Pada bagian puncak terdapat pendekatan konseling yang menekankan atau memusatkan perhatian pada aspek kognitif (thinking) dari tingkah laku. Dalam pendekatan yang berorientasi pada pemikiran (thinking approach) memiliki anggapan dasar bahwa jika individu memiliki pemikiran yang tak rasional dan tak logis maka ia adalah pribadi yang bermasalah (tidak sehat) dan akan menjadi pribadi yang sehat bila konselor dapat membantu klien mengubah pemikiran yang tak rasional dan tak logis menjadi berpikir rasional dan logis. Dalam pendekatan ini dapat di contohkan sebagai berikut: Andi sadar bahwa ia adalah anak yang pintar. Ia selalu risau tentang bagaimana sesuatu pada dirinya akan ditampilkan pada orang lain dan apakah ia telah melakukan “hal yang baik”. Karena desakan bahwa ia menyatakan pada dirinya sendiri “Saya harus mengerjakan ini secara cermat, sempurna atau kalau tidak orang lain akan mengangap saya ceroboh, tak berarti dan tidak pintar “. Hal ini membuat Andi selalu risau akan penilaian orang lain. Ia lalu minta bantuan dari seorang konselor beriorientasi kognitif/pemikiran yang berfokus membantu Andi melihat keyakinan yang tak rasional, seperti “Saya harus mengerjakan ini secara cermat, sempurna dalam tiap hal yang saya kerjakan atau kalau tidak orang lain akan menggangap saya ceroboh, tak berarti dan tidak pintar “.




Thinking (pemikiran) Approach
1. “Jika pemikiran tak rasional dan
tak logis klien berubah maka
klien akan merasa lebih baik dan
akan mampu ambil tindakan
yang lebih layak dan pantas”.
2. Dalam konseling teknik-teknik
kognitf dan rasional diutamakan.

Gambar 1. Segitiga TFA menunjukkan pendekatan berorientasi pemikiran.
Melalui konseling, Andi telah dapat melihat betapa tidak raional pemikirannya dan betapa ia telah tenggelam dalam lingkaran pola perusakan diri (self destruction). Dengan kata lain Pemikiran (Thinking) negatif, perusakan diri menimbulkan perasaan (Feeling) penghukuman diri disertai dengan Tindakan (Acting) menarik diri karena malu pada orang lain karena menurut Andi orang lain akan memberi cap bahwa ia gagal, bodoh, tidak cermat, dsb. Konselor membantunya mengerahkan bisik diri (Self talk) dan pemikiran diri yang lebih rasional, sembari menghilagkan keharusan-keharusan yang tak rasional (seperti, saya harus/mesti/wajib melakukan…apapan yang terjadi). Pemikiran rasional, misalnya bahwa tidak semua hal perlu dilakukan “secerrmat-cermatnya, sempurna”, dan semacamnya. Akibatnya Andi jelas-jelas merubah pandangan pada diri sendiri dan memandang secara realistis pada apa yang ia (atau orang lain) harapkan ia lakukan. Akibat selanjutnya, ia telah mampu beralih dari pikiran dasar yang tak rasional, tak realistis, ke caracara berpikir (Thinking) lebih rasional dan berakibat pada perasaan (Feeling) dan tindakan (Action) lebih positif.
Pendekatan yang berorientasi pada perasaan Dalam gambar 2 terdapat feeling approach (pendekatan-pendekatan yang berorientasi pada perasaan).

Feeling (perasan) Approach
1. “jika perasaan dan emosi
kusut klien dapat di pahami
dan di biarkan terekspresi,
maka akan terjadi
pemahaman dan individu
mampu mengambil tindakan
yang pantas”
2. Dalam konseling teknikteknik berlandas afektif dan
emosional diutamakan.

Gambar 2. Segitiga TFA menunjukkan pendekatan berorientasi perasaan
Dalam pendekatan ini, perhatian utama konselor berfokus pada emosi, afeksi dan perasaan klien. Dalam pendekatan yang berorientasi pada perasaan (feeling
approach) memiliki anggapan dasar bahwa jika perasaan dan emosi kusut individu tidak dapat mengekpresikan dan memahami perasaan-perasaan yang dialaminya maka individu tersebut adalah individu yang “tidak sehat” atau dapat dikatakan individu bermasalah. Individu akan menjadi individu yang sehat bila individu tersebut dapat memahami dan mengekspresikan perasaan-perasaan yang dialaminya.
Dengan demikian individu akan memperoleh insight dan mengambil tindakan yang pantas. Dalam hal ini konselor menitik beratkan pada membantu klien mengekspresikan, mengklarifikasi, menguraikan, dan memahami emosi yang muncul. Seringkali sebagi hasil penguraian kekusutan emosional, klien mengalami
insight (berpikir lebih gamblang mengenai situasi bersangkutan dan kemudian mampu mengambil tindakan yang pantas/layak.
Contoh pendekatan ini adalah sebagai berikut:
Dina telah mengalami tekanan emosional (stres) yang semakin berat dalam enam bulan terakhir. Atas saran seorang teman ia minta konseling dari seorang konselor. Konselor memfokuskan bantuannya perhatiannya pada masa kesepian, rasa sendirian, dan rasa tak berharga Dina yang telah dialaminya sejak tunangan menikah dengan orang lain enam bulan lalu. Dalam proses konseling Dina telah mampu memverbalisasikan dan mengekspresikan perasaan dan emosi pribadinya yang paling dalam pada suasana aman dan santai.
Akibat dari pelepasan emosi tadi, Dina mengalami perasaan lega, melepaskan semua beban dari emosi yang tak tercetuskan yang selama ini tidak pernah ia bicarakan bersama orang lain. Dalam proses itu ia mencapai sejumlah pengamatan jelas (insightful) tenatang situasinya. Ia mulai lambat laun bertambah maju, berpikir positif dan merencanakan jenis aktivitas lain yang ingin ia tekuni pada masa datang. Disamping menemukan pacar pengganti. Proses yang telah berlangsung yaitu dengan membebaskan perasaan (feeling), maka klien mampu berpikir (thinking) lebih jelas dan mengambil tindakan (action) sesuai keperluannya.

Pendekatan yang berorientasi pada tindakan Pada bagaian kanan segitiga (gambar 3) adalah daerah tindakan. Dalam pendekatan yang berorientasi pada tindakan (action approach) memiliki anggapan dasar bahwa jika individu tidak dapat merubah dari tingkah laku yang menimbulkan masalah (maladjusment) kepada tingkah laku yang sesuai dan mendukung kepada tingkah laku yang bermanfaat maka individu tersebut mengalami masalah. Dalam hal ini konselor membantu individu tersebut dengan melakukan sesuatu yang akan lebih mendukung perubahan tindakan atau perilaku yang efektif misalnya dengan merubah pekerjaan, merubah lingkungan, merubah cara melakukan sesuatu, merubah sikap, dan semacamnya.





C.Acting (tindakan)Approach
1.“Jika klien dapat terdukung menempuh tindakan yang
mendatangkan tingkah laku
lebih efektif, maka pribadi
bersangkutan akan merasa lebih baik dan berpikir lebih jelas”
2. Dalam konseling teknik-teknik
behavioral dan tindakan
diutamakan.



Gambar 3. Segitiga TFA menunjukkan pendekatan berorientasi tindakan
Contoh pendekatan ini adalah sebagai berikut:
Budi berhenti dari pekerjaan yang telah ditekuninya selama sepuluh tahun. Ia tidak bisa mendapatkan lapangan kerja pengganti. Setelah tiga bulan berlalu ia terus mendapat omelan dari istrinya, selalu timbul masalah dengan dua anaknya yang belasan tahun. Hal ini membuat Budi makin bertambah berat beban pikirannya. Belakangan ia meminta konseling kepada seorang konselor untuk mengatasi masalahnya. Konselor membantu Budi dengan mulai menyusun rencana-rencana tindakan yang dapat membantu Budi mencari secara aktif lapangan kerja sesuai dengan keterampilan dan pengalaman kerja yang lalu. Dalam hal ini Budi berusaha untuk merubah tindakannya dengan belajar beberapa keterampilan yang mendukung memperoleh suatu pekerjaan baru. Akhirnya setelah Budi mendapatkan pekerjaan baru maka beban pikiranya berangsur-angsur hilang, hubungan antara ia dengan anggota keluarga semakin meningkat dengan pesat dan merasakan semakin nyaman.
Dari beberapa penjelasan tersebut kita dapat memahami karakteristik masalah yang dihadapi oleh individu berdasarkan sudut pandang pendekatan konseling yang berorientasi pada pemikiran (thinking), perasaan (feeling), dan tindakan (acting). Masalah-masalah yang muncul dapat berasal dari pemikiran individu, dari perasaan-perasaan yang dialami oleh individu maupun tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu. Hal ini benarbenar akan menjadi masalah bagi individu ketika terjadi kesenjangan antara harapan dan kenyataan, proses belajar yang salah ataupun beberapa perilaku yang tidak sesuai/tidak dikehendaki oleh individu atau lingkungan terus dilakukannya. Dengan demikian perlu adanya upaya-upaya yang membantu individu agar dapat menyelesaikan masalahnya dan dapat hidup secara layak.
Selain karakteristik masalah individu berdasarkan pendekatan thinking, feeling, dan acting, beberapa praktisi konseling mencoba menjelaskan jenis-jenis masalah yang muncul dalam konseling. Cavanagh dan Levitov (2002) menjelaskan masalah berdasarkan terpenuhi atau tidak terpenuhinya kebutuhan individu:
Kebutuhan memberi dan menerima kasih sayang
 Kebutuhan memberi dan menerima kasih sayang adalah kebutuhan yang utama pada individu. Individu adalah makhluk sosial yang memiliki kebutuhan akan keintiman dan kebutuhan untuk mengekspresikan kasih sayang dalam hidupnya sehingga dapat berfungsi secara efektif. Menerima kasih sayang dapat membuat inividu merasa hangat, diterima, dan dicintai. Ketika individu menerima kasih sayang, maka individu dapat memberikan kasih sayang kepada orang lain karena reinforcement kasih sayang yang diterimanya. Selain menerima kasih sayang, memberi kasih sayang juga merupakan kebutuhan yang sangat penting untuk dipenuhi. Individu yang tidak dapat memberikan kasih sayang kepada orang lain cenderung menjadi individu yang frustasi, merasa tidak berguna, dan secara emosional tidak stabil. Kebutuhan yang tidak terpenuhi dalam mendapatkan dan memberi kasih sayang dapat menjadi salah satu karakteristik masalah dalam konseling.
Kebutuhan terhadap kebebasan
 Salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi pada individu adalah kebebasan dalam membuat pilihan dalam hidupnya. Kebebasan dalam memilih mengimplikasikan bahwa individu membuat keputusan berdasarkan siapa diri mereka bukan apa yang harus ditampilkan dari diri mereka atau berdasarkan apa yang orang lain harapkan dari diri mereka. Kebebasan yang dimaksud disni adalah kebebasan yang bertanggung jawab. Kebebasan tanpa tanggung jawab adalah kebebasan yang egosentris, sembrono, dan merusak, sedangkan tanggung jawab tanpa kebebasan adalah hidup yang tanpa pilihan, makna, dan tujuan. Masalah muncul ketika individu tidak memiliki kebebasan untuk membuat pilihan dalam hidupnya. Dalam mendefinisikan dan mengidentifikasi masalah konseling hubungannya dengan kebebasan, konselor hendaknya memahami konsep kebebasan dalam konteks budaya klien.



Kebutuhan bermain atau hiburan
 Bermain meningkatan kekuatan individu, menurut saffi dan saffi bermain dapat meningkatkan penguasaan anak terhadap lingkungan dan meningkatkan perilaku adaptif. Bermain adalah sumber dari penemuan dan kreativitas. Pada orang dewasa, bermain atau hiburan dapat meningkatkan kesehatan psikologis. Salah satu contoh bermain bagi orang dewasa adalah hobi, berbagai psikiatri menyarankan orang dewasa untu memiliki hobi, karena dapat meningatkan kesejahteraan psikologis individu. Bentuk bermain atau hiburan dapat berupa mendaki gunung, berenang, tenis, menulis, membaca, melukis, atau mendengarkan musik. Bentuk bermain lain diantaranya adalah bermain dengan anak dan menolong orang yang kurang beruntung. Kurangnya bermain dan hiburan dapat menimbulkan masalah.
Kebutuhan terhadap penerimaan stimulasi
 Individu memebutuhkan berbagai macam pengalaman dan perubahan dalam hidup untuk mengurangi kejenuhan. Mereka membutuhkan pengalaman yang menyegarkan dan tantangan baru agar merasa hidup. Selain melaksanakan kegiatan rutin, individu juga perlu menyisihan waktunya untuk pengalaman baru dalam pertemanan, kerja, dan lain-lain. individu yang mendapatkan stimulasi yang rendah akan terjebak dalam kegiatan rutin yang menjenuhkan. Ketika individu terjebak dalam kegiatan rutin secara terus menerus, maka individu tersebut gagal untuk tubuh dan berkembang. Kurangnya hiburan atau bermain dapat menjadi salah satu karakteristik masalah dalam konseling.
Kebutuhan terhadap penghargaan
 Banyak individu yang merasa tidak dihargai atas usaha yang telah dilakukannya. Banyak klien yang datang kepada konsleor karena mereka merasa tidak di hargai di rumah, tempat kerja, maupun dalam hubungan pertemanan.

Kebutuhan terhadap harapan
 Harapan sangat penting dalam kehidupan individu. Harapanlah yang akan mempertahankan semangat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Ketika individu kehilangan harapan, maka individu tidak memiliki semangat dalam hidupnya dan individu berhenti untuk mencoba hal-hal dan pengalaman baru. Harapan adalah motivasi terbesar bagi individu dalam menjalani kehidupan. Kehilangan harapan adalah salah satu jenis masalah yang muncul dalam proses konseling. Seringkali individu tidak menyadari kapan harapan-harapan dalam hidupnya hilang, tiba-tiba individu merasa putus asa dengan diri, hubungan, atau pekerjaannya.

Kebutuhan terhadap tujuan hidup Tujuan hidup akan mengarahkan kemana individu melangkah dalam hidupnya. Banyak individu yang tidak menyadari tujuan hidupnya, seiring dengan perkembangan teknologi dan media sosial di masyarakat, individu tidak memiliki waktu yang cukup untuk memikirkan apa tujuan hidupnya dan lebih banyak dipengaruhi oleh apa yang ditampilkan oleh sosial media. Kehilangan tujuan hidup merupakan salah satu jenis masalah yang muncul dalam proses konseling. Beberapa karakteristik masalah yang telah dijelaskan tadi setidaknya dapat memberikan pemahaman kepada konselor bahwa ketika ia membantu individu (klien) dalam pemecahan masalah maka konselor akan lebih memahami dan memberikan bantuan secara tepat berdasarkan karakteristik masalah yang dialami oleh klien. Dari pendekatanpendakatan yang dikemukakan diatas, memberikan suatu kerangka kerja komprehensif dan sistematis yang diperlukan oleh konselor terutama dalam penggunaan teknik ataupun strategi dalam proses konseling agar tercipta suatu bantuan yang efektif dan kualifaid dalam membantu berbagai macam klien beserta masalahnya.




















BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Dalam perkembangan dan proses kehidupannya individu menghadapi berbagai permasalahan. Permasalahan yang dihadapi oleh setiap individu sangat dimungkinkan selain berpengaruh pada dirinya sendiri juga berpengaruh kepada orang lain atau lingkungan sekitarnya. Dengan demikian individu dituntut untuk segera mengambil keputusan dan menyelesaikan masalahnya agar ia dapat hidup secara layak serta dapat menyesuaikan diri dengan lingkunganya secara sehat. Pada kenyataannya tidak semua individu mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Dengan demikian perlu adanya upaya-upaya yang dapat membantu individu dalam menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Salah satu upaya bantuan itu adalah dengan konseling.
Pada hakekatnya konseling bertujuan membantu individu untuk belajar mengambil keputusan dan mengoptimalkan segala kemampuan atau potensi yang dimiliki oleh individu dalam rangka menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Dalam membantu individu, konselor sebagai tenaga profesional dibidang konseling menggunakan berbagai ragam pendekatan konseling agar mereka dapat membantu kliennya lebih efektif dan efisien. Oleh karena tingkah laku individu adalah komplek, maka tak satupun pendekatan yang memberi jawaban lengkap dan tak satupun yang mampu membantu semua orang dalam semua situasi. Dengan adanya situasi demikian, diperlukan adanya suatu pendekatan yang komprehensif, fleksibel yang akan memungkinkan konselor melakukan penyesuaian pada klien dengan menggunakan berbagai teknik dan pendekatan dalam proses konseling.





DAFTAR PUSTAKA

 Mappiare, Andi. 2006. Kamus Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT. Rajawali Grafindo Persada.
2 Cavanagh, Michael & Levitoc, Justin. 2002. The Counseling Experience, A Theoritical and
Practical Approach. Illionis: Waveland Press Inc Hutchins, D.E dan Meo, K.K. 1987. Mengintegrasikan Ancangan-ancangan Pokok Konseling. Disadur oleh A. Mappiare. Bina Bimbingan. 4 (5), 35-40.
3 Hutchins, D.E dan Meo, K.K. 1987. Mengintegrasikan Ancangan-ancangan Pokok Konseling. Disadur oleh A. Mappiare. Bina Bimbingan. 4 (5), 35-40.

Comments